Murābaṭah Keempat - Menghukum Diri Karena Kelalaian dalam Hak Allah* B
"MOGEH MANFA'ATAH" -/+ 🙏🏻 FULL VIDEO DI CHANEL A nono suropute / @nonosuropute بسم الله الرحمن الرحيم 40. رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ 41. رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ Murābaṭah Keempat - Menghukum Diri Karena Kelalaian dalam Hak Allah* Deskripsi: Murābaṭah keempat adalah bentuk pengawasan diri dengan cara memberi hukuman kepada diri sendiri ketika melakukan dosa atau lalai dalam menunaikan hak Allah. Tujuannya agar jiwa tidak terbiasa dengan maksiat dan tidak menjadi mudah untuk mengulanginya. Inti dari murābaṭah ini: *Jangan dibiarkan*. Jika seseorang mengabaikan kesalahannya, maka maksiat akan terasa ringan, jiwa akan jinak dengannya, dan akan sulit untuk meninggalkannya. Itu bisa menjadi sebab kebinasaan. *Hukum sesuai anggota tubuh yang salah*. Jika perut makan makanan syubhat karena syahwat, maka hukum perut dengan lapar. Jika mata melihat yang haram, maka hukum mata dengan menahan diri dari melihat. Setiap anggota tubuh dicegah dari syahwatnya. Inilah kebiasaan para salikun, orang-orang yang menempuh jalan akhirat. Contoh-contoh dari para ulama dan ahli ibadah: 1. *Manṣūr bin Ibrāhīm meriwayatkan*: Ada seorang ahli ibadah yang berbicara dengan seorang wanita sampai akhirnya meletakkan tangannya di pahanya. Karena menyesal, ia meletakkan tangannya di atas api sampai tangannya melepuh. 2. *Ahli ibadah Bani Israil*: Ia beribadah di tempat pertapaannya lama sekali. Suatu hari ia melihat seorang wanita lalu tergoda dan hendak menemuinya. Saat sudah mengeluarkan kakinya untuk turun, Allah mengingatkannya. Ia pun menyesal. Ketika hendak mengembalikan kakinya ke tempat ibadah, ia berkata: "Tidak mungkin. Kaki yang keluar untuk bermaksiat kepada Allah tidak akan kembali bersamaku ke tempat ibadah." Lalu ia biarkan kaki itu tergantung di luar sampai terkena hujan, angin, salju dan panas hingga akhirnya putus. Allah memujinya dan menyebutnya dalam sebagian kitab-Nya. 3. *Al-Junaid dari Ibnul Kurībī*: Pada malam yang sangat dingin ia junub dan harus mandi. Nafsunya mengajak menunda sampai pagi agar bisa pakai air hangat. Ia pun menghukum dirinya: "Sungguh aneh, aku bermuamalah dengan Allah sepanjang umurku tapi tidak semangat menunaikan hak-Nya." Maka ia bersumpah tidak akan mandi kecuali dengan bajunya yang itu juga, dan tidak akan melepas, memeras, atau menjemurnya di matahari. 4. *Ghazwān dan Abu Musa*: Saat perang, Ghazwān melihat aurat seorang budak wanita. Ia langsung menampar matanya sendiri sampai terluka sambil berkata: "Engkau suka melihat yang membahayakanmu." 5. *Seorang ulama lain*: Ia sekali saja memandang seorang wanita, lalu menghukum diri tidak minum air dingin seumur hidup. Ia minum air panas agar hidupnya terasa pahit. 6. *Hassān bin Abī Sinān*: Ia bertanya "Kapan kamar ini dibangun?" lalu menegur dirinya: "Engkau bertanya yang tidak berguna." Maka ia menghukum diri dengan puasa setahun. 7. *Mālik bin Ḍaigham meriwayatkan tentang Rabāḥ Al-Qaisī*: Ia datang mencari ayahnya setelah Ashar. Dikira ayahnya tidur. Ia marah: "Tidur di jam segini?" Lalu ia pergi ke kuburan sambil mencaci dirinya: "Apakah ini waktunya tidur? Demi Allah aku tidak akan membiarkanmu tidur di atas tanah selama setahun kecuali karena sakit atau hilang akal." 8. *Tamīm Ad-Dārī*: Ia pernah tertidur dan tidak tahajud semalam. Sebagai hukuman, ia shalat sepanjang tahun tanpa tidur. 9. *Seorang sahabat yang meratapi diri di atas pasir panas*: Nabi ﷺ melihatnya lalu bersabda: "Bukankah tidak ada pilihan lain selain yang engkau lakukan? Sungguh pintu-pintu langit telah dibuka untukmu dan Allah membanggakanmu di hadapan para malaikat." Lalu Nabi menyuruh para sahabat: "Ambillah bekal dari saudaramu ini." 10. *Ḥudzaifah bin Qatādah ditanya*: "Bagaimana engkau menghadapi syahwat dirimu?" Ia jawab: "Tidak ada jiwa di muka bumi yang lebih aku benci daripadanya, bagaimana mungkin aku beri dia syahwatnya?" 11. Ibnus Sammāk melihat Dāwud Ath-Ṭāī yang meninggal di atas tanah. Ia berkata: "Wahai Dāwud, engkau telah memenjarakan dirimu sebelum dipenjara, dan menyiksa dirimu sebelum disiksa. Hari ini engkau melihat pahala dari Dzat yang dulu engkau beramal untuk-Nya." Kesimpulan: Murābaṭah ini mengajarkan ketegasan terhadap diri. Bukan untuk menyiksa tanpa arah, tapi untuk mendidik jiwa agar takut kepada Allah, cepat bertaubat, dan tidak meremehkan dosa kecil. Dengan begitu hati akan hidup dan istiqamah di jalan akhirat. اللهم فقهنا فى الدين وعلمنا التأويل اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين 🤲

Murābaṭah Keempat - Menghukum Diri Karena Kelalaian dalam Hak Allah* A

REVEALED: IS GERMANY HOLDING TALKS WITH RUSSIA?

Untuk Kamu yang Sering Lelah Batin: Coba Evaluasi Diri dengan Cara Ini - Ustadzah Dyah Rachmawati

The Nature of Repentance and the Gravity of Repentance According to the Salaf

🌙 Most Beautiful Night Time Dua for Peaceful Sleep | Sleep Under Allah’s Protection

Liability of Pet Owners for Damages Caused by Their Animals

THIS is how Merz embarrassed himself in the summer interview!

The Fifth Murabatah: Al-Mujahadah — Disciplining the Soul Through Discipline and Devotion July 21...

سورة البقرة (كاملة) للشيخ محمود خليل الحصري لحفظ وتحصين المنزل وجلب البركة تلاوة هادئة Sourah Baqara

🔴 Makkah Live | مكة مباشر | الحرم المكي مباشر | قناة القران الكريم السعودية مباشر | مكه المكرمه

Muhasabah Diri: Perdagangan Akhirat dan Timbangan Keselamatan : B

18 Juli 2026

Inti Taubat Nasuha: Antara Hak Allah dan Hak Sesama Manusia"* : B

Legal Status of a Representative's Admission in a Contract

🔴 USTADZ RIFKY JAFAR THALIB - MEMANCARKAN CAHAYA PERADABAN

Are You Struggling In Life? Watch This!!! Sheikh Mostafa Al Shaybani

Osteoporoza karşı en ucuz ve en güçlü besinler: 60 yaş üstü kemik sağlığı

Syarat Sah Qiradh (Mudharabah) dalam Fikih*

الله الكريم: كيف يغيّر الاستغفار حياتك؟

