TAIS MARKET DILI: Eksplorasi Kain Tenun di Pasar Wisata

Explora Tais iha Merkadu Turizmu... Tahu artinya? Ya, itu tadi: “Eksplorasi Kain Tenun di Pasar Wisata”. Itu bahasa Tetum, bahasa orang Timor Leste. Kalau bahasa Timor Osidental alias wilayah Timor yang masuk NTT, jadinya “Katong jalan-jalan lia kain tenun di pasar wisata.” Lho, kok mirip bahasa Indonesia? Ya, orang Timor, di Timur menggunakan bahasa Tetum. Di Barat, menggunakan bahasa kreol Melayu, kecuali orang Barat yang ada di Timur, banyak pakai Tetum. Kok, malah ngomongin, bahasa, bukannya mau cerita kain tenun? Betul. Kecintaan saya tentang kain tenun sebenarnya merupakan representasi kecintaan terhadap budaya lokal. Representasi, Lefebrian dong? Apa, Representational space? Wah, yang belum tahu, konsep REPRESENTIONAL SPACE itu diungkapkan oleh HENRI LEFEBVRE dalam buku “The Production of Space”. Menurutnya, ruang itu ada 3 level pengertian. Level pertama adalah ruang-ruang praktikal, ruang dalam pengertian sehari-hari. Level kedua adalah repesentation of space, ruang dalam pengertian yang abstrak, seperti yang dipahami para astronot, arsitek, planner, atau para sosiolog; sayan menempatkan ruang sosial pada level kedua. Nah, yang ketiga, Lefebvre menyebut “representational space”, yang kalau mudahnya adalah gabungan antara ruang praktikal dan ruang sosial. Jadi, ketika kita melihat ruang arsitektural, bukan hanya ruang fisik yang dibaca, namun representasi perjuangan sosial apa yang ada di di ruang tersebut. Contoh paling mudah adalah Grafiti pada ruang publik perkotaan, biasanya pada dinding-dinding kosong yang tak terpakai, yang kalau dilihat dari representational space, GRAFFITI tersebut menunjukkan kreativitas dari pembuatnya, biasanya dari kelompok UNDERGROUND, namun ingin dilihat eksistensinya sebagai WARGA KOTA. Wah, jadi kuliah SOSIO-SPASIAL, nih? Boleh ditukar dengan 2 SKS, tapi… harus daftar mahasisiwa dulu, hehehe… Maka, saya punya istilah baru “REPRESENTATIONAL OBJECTS”. Jadi, objek dilihat bukan dari bendanya semata, namun representasi perjuangan sosial apa yang disematkan pada benda tersebut. Misalnya, kita sering menggunakan istilah WASTRA untuk menyebut kain tradisional. Ya, WASTRA adalah kain tradisional, bisa batik, tenun, songket, atau kain-kain lainnya, yang MEREPRESENTASIKAN nilai-nilia luhur masyarakat terntu. THE PRODUCTION OF FABRIC. Kalau orang Timor Leste menyebut wastra dengan TAIS. Tais ternyata juga disebut masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, mahasiswa saya lebih menyebut sebagai TENUN IKAT NTT, bukan Tais, bahasa lokal mereka. Apa iya? Nah ini yang justru semakin asyik bila diteliti.. Seperti saya ketika mblusuk ke TAIS MARKET di Dili, Timor Leste. Saya percaya aja tentang tenun ikat yang dijual di situ. Namanya juga PASAR. Namun maknanya dan tais ini berasal dari suku mana, wah, mana saya tahu. Namanya juga pasar, bukan museum.. Setelah searching di internet, saya baru tahu kalau motif Tais Timor Leste berbeda dengan motif kain serupa di NTT. Ya, setiap suku di Nusa Tenggara, termasuk Timor Leste, punya identitas kain adatnya masing-masing. Hitung berapa suku di Timor Leste, lalu juga suku-suku di Kupang, Flores, dan wilayah NTT lainnya. Betapa kayanya budaya di wilayah itu. Namun, apakah pedagang TAIS MARKET tahu makna dari motif kain yang mereka jual? Kalau belum, itu peluang: EDUKASI DI PASAR. Nah, kalau ini berhasil, maka akan ada INOVASI di MERKADO TAIS: ada nilai tambah terhadap komoditas yang dijual. Paling tidak nilai tambah kultural Iha merkadu Timor Leste, ita mos bele aprende kona ba kultura. Di pasar Timor Leste, kita bisa belajar juga tentang budaya.,.