Di balik keindahan laut, kapal nyaris tenggelam! [Banggai Laut]

Sejak ada wacana pembangunan bandar udara di daerah Kabupaten Banggai Laut, sebagian besar warga Banggai Laut menyambut hangat. Letak yang cukup strategis di wilayah desa Kendek dan sekitarnya menjadikan pulau Banggai punya wajah baru jika ditinjau dari peta Google Maps akan datang. Setelit akan meng-upgrade gambar beberapa tahun ke depan hingga landasan bandara itu rampung. Entah siapa presiden atau gubernur yang akan meresmikannya—yang pasti, jalur via udara segera menjadi alternatif lain untuk penyemberangan antar pulau. Sebagaimana diketahui: Banggai Laut hanyalah pulau kecil di sebelah timur mata angin pulau Sulawesi. Daerah dengan penggunaan waktu "WITA" ini bertetangga dengan wilayah Kesultanan Ternate (darat dan laut). Banggai bukan Indonesia Timur—melainkan Indonesia Tengah di provinsi Sulawesi Tengah. Laut menjadi salah satu komoditas penyumbang di kas APBD. Kurang lebih 70% wilayah Banggai Laut adalah laut. Namanya saja Banggai Laut. Sudah pasti yang mendominasi adalah laut. Dengan pelbagai jenis ikan dan biota laut yang bisa dikembangkan menjadi bahan baku obat di industri produk kesehatan, hingga ikan yang bisa diekspor ke manca negara untuk dijadikan santapan di restoran mahal. Destinasi wisata di Banggai Laut bukan rahasia umum lagi. Indahnya pantai bukan hal baru untuk warga Banggai Laut. Debur ombak adalah musik. Salah satu akun bernama "Like Banggai Laut" sangat intens menyuguhkan panorama wisata alam di daerah ini. Unggahan gambar berkualitas baik dipercaya dapat memantik wisatawan lokal maupun asing untuk berkunjung di pulau kecil ini. Terumbu karang pun jadi pemandangan yang diincar oleh berbagai pasang mata wisatawan. Beberapa hari yang lalu, kru MTMA (My Trip May Adventure) tiba di Banggai Laut. Mereka akan menyusuri beberapa destinasi wisata di daerah pusat Kerajaan Banggai. Banggai Laut belum punya maskapai penerbangan yang dapat mengangkut warga untuk bertolak dari daerah. Kapal laut berukuran sedang menjadi satu-satunya alternatif untuk penyemberangan. Kapal yang tersedia lumayan bagus. Ukuran kapalnya tiga sampai empat lantai. Dengan kapasitas penumpang berjumlah kurang lebih 200-300 orang. Bagi yang sering mabuk laut, ini adalah ujian fisik yang cukup berat. Bagi yang sering melakukan perjalanan dinas (Pegawai honorer & ASN) ini adalah hal yang biasa. Bahkan kemampuan membaca arus laut pun mereka tahu. Akibat sering menempuh perjalanan laut, tak jarang mereka tidak menikmati asiknya perjalanan itu. Bagi yang suka bertualang, ini adalah tantangan dan peluang untuk menikmati keindahan pesisir dari kejauhan. Hal yang paling menakjubkan adalah kita dapat menyaksikan betapa luasnya samudera. Begitu pula dengan luasnya seperti ilmu pengetahuan yang kita peroleh selama membaca buku di perjalanan. Selama di perjalanan, saya begitu takjub dengan keindahan alam di bumi Banggai. Mulai dari ikan lumba-lumba yang beriringgan mengikuti lajunya kapal, pantai yang putih dan hijaunya pohon kelapa, semenanjung yang menjulang, pulau kecil yang menggemaskan hingga mercusuar yang setia berdiri tunggal di pulau kecil tak berpenghuni itu. Selain itu, saya saksikan sendiri tanda bahwa petani sedang mengasap kelapanya, ditandai dengan kepulan asap di lokasi perkebunan. Selain itu, mungkin petani sedang membakar rumput. Jauh di seberang pulau Peling, terlihat pemukiman penduduk yang merupakan ibu kota Kabupaten Banggai Kepulauan, kota Salakan. Lepas di depan Tanjung Pamali, gelombang laut mulai mengganggu stabilitas kapal yang berjalan di atasnya. Saya menyambangi kapten kapal yang berdiri di depan ruang kemudi, lalu bertanya soal fenomena ini. Jawaban kapten sangat singkat. Meskipun singkat, jawaban itu cukup membuatku puas atas kecemasan. Ada gelombang yang lebih dahsyat daripada ini. Menurutnya, ini hanya gelombang sedang, meskipun kapal sudah terombang-ambing dihantam ombak dari arah utara. Di sinilah tantangannya. Banyak penumpang yang mabuk laut memuntahkan kembali makanan yang telah diproses di lambung. Perut terasa dikocok. Yang beruntung adalah ikan yang berenang di permukaan laut. Itu bisa menjadi santapan makan siangnya hari ini. Dari kejadian ini, saya teringat sebuah berita yang cukup menghebohkan warga Indonesia. Dan itu terjadi di kampung saya. Sebuah kapal kargo bermuatan puluhan awak kapal tenggelam di perairan Banggai-Morowali. Kapal tersebut berasal dari Sulawesi Tenggara. 19 orang dinyatakan meninggal dunia dan hilang, sebagian mayatnya ditemukan di tepi pantai pulau Peling, Kabupaten Banggai Kepulauan, 1 orang ditemukan selamat dalam kondisi lemas akibat tak ada asupan makanan selama mengapung di laut.