Renungan TEKAD - Hari Ke - 183 - Bilangan 12:2-3

BILANGAN 12 BILANGAN 12:2-3 Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah Ia telah berfirman dengan perantaraan kita juga? ... Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. RENUNGAN Seorang filsuf Kristen, C. S. Lewis, pernah menulis, “Pride gets no pleasure out of having something, only out of having more of it than the next man” (“Kesombongan tidak memperoleh kepuasan karena memiliki sesuatu, melainkan karena memiliki lebih banyak daripada orang lain.”). Sering kali masalah terbesar dalam hubungan bukanlah perbedaan kemampuan, melainkan keinginan untuk lebih diakui daripada orang lain. Itulah yang terjadi dalam Bilangan 12. Miryam dan Harun mulai mengkritik Musa. Secara lahiriah, persoalannya tampak berkaitan dengan perempuan Kush yang dinikahi Musa (ay. 1). Namun ayat 2 menyingkapkan akar masalah yang sebenarnya: mereka mempertanyakan otoritas Musa dan menginginkan kedudukan yang sama dengannya. Kritik mereka bukan sekadar soal kebenaran, tetapi tentang ambisi dan pengakuan. Menariknya, Musa tidak membela diri. Ayat 3 mencatat bahwa ia adalah orang yang sangat lembut hati. Kata yang digunakan di sini mengandung makna kerendahan hati dan ketundukan kepada Allah. Musa menyerahkan pembelaannya kepada Tuhan. Dan Tuhan sendiri yang turun tangan, menegaskan bahwa Musa memiliki hubungan yang unik dengan-Nya dan bahwa serangan terhadap Musa sesungguhnya merupakan bentuk pemberontakan terhadap otoritas yang telah Allah tetapkan. Tokoh gereja mula-mula, John Chrysostom, pernah berkata, “Humility is the root, mother, nurse, foundation, and bond of all virtue” (“Kerendahan hati adalah akar, ibu, pemelihara, dasar, dan pengikat segala kebajikan.”). Bilangan 12 menunjukkan bahwa Allah lebih berkenan kepada kerendahan hati Musa daripada ambisi rohani Miryam dan Harun. Hari ini, marilah kita menguji hati kita. Ketika melihat keberhasilan, pelayanan, atau pengaruh orang lain, apakah kita bersukacita atau diam-diam merasa tersaingi? Ketika dikritik atau disalahpahami, apakah kita segera membela diri, atau menyerahkan perkara itu kepada Tuhan? Kerendahan hati bukan kelemahan. Kerendahan hati adalah kekuatan untuk tetap taat tanpa harus selalu diakui. Orang yang rendah hati tidak sibuk meninggikan dirinya, sebab ia percaya Allah sanggup meninggikan dia pada waktu-Nya. https://docs.google.com/forms/d/e/1FA...