"Tanah Merah Biru: Workshop Performatif" (Menguji Ingatan atau Tubuh Peragaan)

Ini merupakan gabungan peragaan dari fase pertama dan kedua, pada saat pulang pergi bolak-balik menanggulangi situasi dan kondisi fisik, yang dikhawatirkan terkena nyamuk malaria; tubuh mesti bergerak atau tubuh mesti mengambil jeda sejenak. Pilihannya adalah "melarikan diri" dari ruang yang sekiranya memperumit keaadan. Jeda ini juga memberikan peluang terhadap rekan-rekan kolaborator untuk mengaktivasi dirinya masing-masing, setelah diberikan rute oleh saya, sebagai seorang musafir, sebagai seorang residen dari lembaga border crossing space burneh. Ingatan ini dikumpulkan melalui anak-anak, melalui pedagang, atau melalui ruang, yang biasa dijalani atau ditempuh setiap harinya. Atau kami menyebutnya tubuh peragaan untuk memperagakan banyak hal yang bisa dilakukan, atas rumusan pertanyaan penelitian saya; apa yang menyebabkan perkampungan yang disebut terpinggir, tampak terlihat sulit untuk keluar dari cara kerja kolonialisme atau koloniatas? Apakah karya saya nantinya cukup menjawab dari rumusan pertanyaan penelitian saya ini, yang sejatinya dari awal karya ini dijadikan sebuah metode riset artistik, bukan hanya sebuah produk karya, dengan practice as research berdasarkan pemikiran Robin Nelson, yang berkelindan dengan riset performatif, yang dicetuskan oleh Sullivan? Baik itu melalui kerja-kerja workshop performatif maupun dokumenter performatif saya, atau potongan video-videp pendek, yang sengaja langsung diupload melalui chanel YouTube kami, tanpa harus mengeditnya. Ini sekali lagi sebagai upaya, yang akan coba terus menerus dengan harapan teraktivasinya kembali, kolektif seni progresif, sebutlah Kolektif Seni Membaremo, yang diharapkan jadi suara-suara tandingan dari bawah tanah, atau dari akar rumput yang tidak terintervensi dari beragam sistem yang mapan. #kementeriankebudayaan #danaindonesiana #tanahmerahbiru