ES GEMPOL PLERET PASAR GEDE SURAKARTA

DI TENGAH-TENGAH PASAR ADA APA? Ini teka-teki di zaman saya. Di tengah Pasar, ya ada “S”. Dibaca ada “es”. Artinya, di tengah pasar, kita bisa ngadhem, wong ada “es”-nya… Nggak lucu? Namun di PASAR GEDE SURAKARTA, di tengah-tengahnya memang benar-benar ada es, tepatnya Es Dawet Telasih dan Es Gempol Pleret. Yang pertama sudah jadi objek wisata: ada orang Surabaya khusus datang ke Surakarta, ke Pasar Gede, hanya untuk beli Es Dawet Telasih. Lha apa bedanya dengan ES GEMPOL PLERET? Ini lebih khas, karena GEMPOL PLERET ini asli produksi SOLO KEMRINGET alias wilayah Sekitar Solo. Itu lelucon kalau orang sekitar Solo, misalnya Klaten, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, kalau ditanya orang luar aslinya mana, dijawab dari Solo. Nah, kalau ketemu sama orang yang benar-benar tinggal di Solo, wilayah itu disebut “Solo Kemringet”, soalnya kalau jalan kaki dari kota-kota itu dijamin berkeringat. Gempol Pleret ini asli produk Kecamatan BEKONANG di SUKOHARJO. Tepatnya di Dusun Nglinduk. Kok tahu? Ya, iyalah, soalnya saya mblusuk dari Pasar Gede sampai ke Bekonang, sekitar setengah jam berkendara. Istilah kerennya FOOD TRACING: menelusuri jejak makanan dari ruang konsumsi (pasar rakyat) hingga ruang produksi (rumah pengrajin). Karena saya peneliti, maka saya menduga ada budaya padi dari produksi Gempol Pleret di Bekonang. Di Surakarta, ada kebanggan tersendiri ketika petani bisa menanam padi berkualitas tinggi: ROJOLELE. Namun varietas ini tak tahan hama wereng. Maka, beberapa petani memilih menanam padi berkualitas rendah namun lebih tahan lama. LOCAL INNOVATION. Itulah yang dilakukan oleh penemu Gempol Pleret. Kalau tidak salah, namanya mbah Karto Ginem, kakek dari mbah Yami, produsen sekaligus bakul Gempol Pleret di pintu Pasar Gede. Wah, kalau saya salah nyebut nama, nyuwun ngapunten, njih, mbah. Pas ngobrol pancen sing dielingke enake gempol pleret, je. Jeneng penemune, yo, lali. Padahal dicathet, ning cathetane ning endi yo, lali. Malah crito… INOVASI. Ya, kualitas beras yang rendah namun bisa tahan hama mempunyai NILAI LEBIH ketika menjadi gempol dan pleret. Eh, itu dua entitas berbeda: gempol itu warna putih dan asin, pleret itu yang coklat dan manis. Cara membuatnya pun bede: GEMPOL dengan teknik menumpuk (makanya disebut gempol), PLERET dengan teknik menarik, dengan tambahan tapioka yang bikin lengket (makanya disebut pleret). Cara masaknya pun berbeda: gempol di bagian bawah periuk, sementara pleret di bagian atasnya. Itu pun kalau saya tidak salah ingat, soalnya bakul plus produsen di Bekonang ceritanya begitu. Cerita dengan penuh semangat, wong saya beli es gempol pleret-nya. Jadi, di tengah-tengah pasar ada apa? Ada “S”. Kali ini, kita anggap saja S-nya sebagai SEKOLAH. Ya, mblusuk di pasar, saya “bersekolah” tentang INOVASI LOKAL tentang gempol dan pleret. “Sekolah” yang menyenangkan, soalnya sambil minum es…