kenapa perusahaan indonesia jarang invest di desain?

Hampir semua pemilik bisnis Indonesia tahu bahwa marketing itu penting. Sales itu penting. Tapi design? "Urusan nanti." Dan "nanti" itu harganya mahal. Di episode ini gue bahas kenapa bisnis Indonesia secara sistemik masih menempatkan design sebagai pelengkap — bukan sebagai investasi strategis — dan apa konsekuensinya kalau kebiasaan ini terus dibiarkan. --- Yang dibahas di episode ini: ▸ Gap Indonesia vs dunia: Indonesia hanya invest 0.24% GDP untuk R&D, sementara Singapura hampir 8x lebih besar. Design investment? Bahkan lebih jarang. ▸ Kenapa ini terjadi — 3 alasan yang jarang diakui tapi selalu hadir: pasar domestik yang terlalu nyaman, kultur bisnis quick win, dan design yang masuk terlambat ke dalam proses. ▸ Bukti paling mahal: brand-brand yang kehilangan relevansi bukan karena produknya jelek — tapi karena cara mereka berkomunikasi secara visual tidak pernah diperbarui secara strategis. ▸ Cost of not designing — yang tidak pernah dihitung: McKinsey melacak 300 perusahaan selama 5 tahun. Hasilnya: bisnis yang invest di design mencatat revenue growth 32% lebih tinggi dan total shareholder return 56% lebih tinggi. ▸ Yang harus berubah dan siapa yang harus mulai bergerak lebih dulu. --- Ini bukan kritik. Ini cermin. Kalau lo nonton ini dan ngerasa relate mungkin ini saat yang tepat untuk mulai nanya: design di bisnis lo duduk di mana? --- Subscribe dan aktifkan notifikasi biar lo gak ketinggalan episode berikutnya. Ikuti perjalanan ini lebih dekat: → Instagram:   / firasarafi   → TikTok:   / designdjournal   --- 📚 Referensi yang disebut di episode ini: McKinsey Design Index (2018) Harvard Business Review Design Value Index Business Research Insights — Global Design Industry Report (2025) Statista — R&D Spending by Country (2022)