Renungan TEKAD - Hari Ke - 184 - Bilangan 13:30-31

BILANGAN 13 BILANGAN 13:30-31 Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: ‘Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!’ Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: ‘Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat daripada kita.‘ RENUNGAN Pada tahun 1954, Roger Bannister menjadi manusia pertama yang berhasil berlari satu mil dalam waktu kurang dari empat menit. Sebelum itu, banyak ahli olahraga meyakini bahwa hal tersebut mustahil dilakukan. Menariknya, setelah Bannister berhasil memecahkan “batas mustahil” itu, dalam beberapa tahun berikutnya semakin banyak pelari yang mampu melakukan hal yang sama. Yang berubah bukan kemampuan fisik manusia secara drastis, melainkan cara pandang mereka terhadap kemungkinan yang ada. Bilangan 13 mencatat peristiwa ketika dua belas pengintai diutus untuk mengamati Tanah Perjanjian. Semua melihat fakta yang sama: negeri itu subur dan berlimpah hasil. Semua juga melihat tantangan yang sama: kota-kota berkubu dan penduduk yang kuat. Namun mereka menghasilkan dua kesimpulan yang berbeda. Sepuluh pengintai memandang situasi melalui lensa ketakutan. Fokus mereka tertuju pada besarnya musuh sehingga mereka berkata, “Kita tidak dapat maju.” Sebaliknya, Kaleb dan Yosua memandang situasi melalui lensa iman. Mereka tidak menyangkal adanya raksasa-raksasa di negeri itu, tetapi mereka lebih mengingat kebesaran Allah yang telah membebaskan Israel dari Mesir. Perbedaannya bukan terletak pada apa yang mereka lihat, melainkan pada siapa yang mereka percayai. Santo Agustinus pernah berkata, “Faith is to believe what you do not see; the reward of this faith is to see what you believe” (“Iman adalah mempercayai apa yang belum engkau lihat; upah dari iman itu adalah melihat apa yang engkau percayai”). Kaleb tidak menutup mata terhadap kenyataan, tetapi ia melihat kenyataan dalam terang janji Allah. Sering kali kita menghadapi “Tanah Kanaan” kita sendiri: masalah keluarga, kesehatan, pekerjaan, pelayanan, atau masa depan yang penuh ketidakpastian. Ketakutan membuat kita hanya menghitung kekuatan musuh. Iman mengajak kita menghitung terlebih dahulu kesetiaan Allah. Hari ini, tanyakanlah pada diri sendiri: apakah saya lebih banyak berbicara tentang besarnya masalah atau tentang besarnya Tuhan? Ambillah satu langkah iman yang konkret—berdoa, taat, mengampuni, melayani, atau memulai sesuatu yang Tuhan taruh di hati Anda. Sebab kemenangan tidak dimulai ketika rintangan hilang, melainkan ketika kita mempercayai Allah di tengah rintangan itu. https://docs.google.com/forms/d/e/1FA...