Ronggeng, Trauma Kekerasan 1965, dan Kritik Novel ala Gus Dur - Ahmad Tohari | Menjadi Indonesia #11
Ahmad Tohari: Ronggeng, Trauma Kekerasan 1965, dan Kritik Novel ala Gus Dur | Menjadi Indonesia #11 Program Menjadi Indonesia episode 11 menghadirkan sastrawan senior Ahmad Tohari, penulis "Ronggeng Dukuh Paruk". Novel ini dianggap sebagai karya klasik dalam kesusastraan Indonesia dan sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing. Kang Tohari—begitu ia akrab disapa—membeberkan proses kreatif di balik penulisan novel yang kemudian diadaptasi menjadi dua film layar lebar. Trauma masa lalu ketika menyaksikan sendiri pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh PKI pada 1965-1966 mendorongnya menulis novel tersebut. Dipandu Pemimpin Redaksi NU Online Ivan Aulia Ahsan, pria kelahiran 13 Juni 1948 itu juga mengungkapkan simpati kepada mereka yang menjadi korban pembantaian. “Ronggeng Dukuh Paruk”, baginya, adalah sumbangan kepada bangsa Indonesia agar peristiwa serupa tak terulang di masa depan. Ia bercerita pula bagaimana Gus Dur mengkritik novelnya yang pertama, “Kubah”, hingga ia memanfaatkan kritikan dari Gus Dur itu untuk memperbaiki novel-novel selanjutnya. Satu hal yang jarang diungkap: nama Abdurrahman Wahid ternyata pernah menyelamatkannya dari interogasi dan intimidasi tentara Orde Baru. Segmen video: 00:00:00 - Prolog 00:00:15 - Aktivitas Ahmad Tohari di masa "pensiun" 00:10:32 - Proses penulisan Ronggeng Dukuh Paruk 00:26:56 - Menjadi saksi mata Peristiwa Kekerasan 1965 00:36:39 - "Penderitaan rakyat kecil" dalam karya Ahmad Tohari 00:48:33 - Tujuan Ahmad Tohari dkk mendirikan BPR Syariah 00:58:28 - Ronggeng Dukuh Paruk diterjemahkan ke beberapa bahasa asing 01:03:01 - Intimidasi Orde Baru dan jaminan nama Gus Dur (Abdurrahman Wahid) 01:10:23 - Kritik sastra ala Gus Dur atas Novel Kubah Ahmad Tohari 01:15:33 - Ahmad Tohari menatap masa depan Indonesia ___________ NU Online - Media Resmi Nahdlatul Ulama Super App | Website | Tiktok | Helo | Twitter | Youtube | Instagram | Facebook | Spotify Follow Us: https://linktr.ee/NUOnline #nahdlatululama #nuonline #pbnu #ahmadtohari #ronggeng #ronggengdukuhparuk #novel #menulis #menuliskreatif #sangpenari #thedancer #pki #komunis #komunisme #gusdur #haulgusdur #abdurrahmanwahid #khaabdurrahmanwahid #menjadiindonesia #sastra #sastrawan #sastraindonesia #wawancara #podcast #trending #ontrending #viralvideo #indonesia

Kebudayaan Indonesia di Tengah Krisis Global – Tribute to Asrul Sani | Menjadi Indonesia #44

AHMAD TOHARI: MENULIS SASTRA ADALAH IJTIHAD!

Postmodernisme dan Masa Depan Indonesia - Prof. Bambang Sugiharto | Menjadi Indonesia #37

Halal Bihalal: Gus Dur, Setiawan Djodi, WS Rendra & Tokoh Lain Bahas Sukseskan Pemilu 1999

Sowan Ke Tempat Penulis Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari

AKTIVIS YANG LOLOS DARI PENCULIKAN REZIM ORBA #PutCast

KYAI MUSTOFA BISRI, ULAMA DAN BUDAYAWAN YANG KRITIS | RUANG SAHABAT

Sastra, Spiritualitas, dan Perlawanan Puitik Rakyat Kecil - Mohamad Sobary | Menjadi Indonesia #29

Dari Mana Bibit Bahasa Indonesia? - Hilmar Farid | Chronicles #9

Anhar Gonggong: Sejarah Indonesia & Memori Kolektif Bangsa Kita Dipenuhi Kekerasan | #3

Sabrang: Kenikmatan Dasar Manusia

Bagaimana Politik dan Premanisme Bekerja

TERNYATA INI YANG TERJADI DI MALAM 30 SEPTEMBER 1965?! KONFLIK ANTARA PKI DENGAN ANGKATAN DARAT??

Martin van Bruinessen: Tarekat, NU, dan Dunia Kiai | Menjadi Indonesia #1

Filsafat, Pancasila, dan Rahasia Kebahagiaan Bangsa - Fahruddin Faiz | Menjadi Indonesia #9

La Galigo: Karya Sastra Terpanjang Sedunia dari Sulawesi Selatan - Nurhayati Rahman | Chronicles #13

Philosophy Study 437: Tan Malaka - 100% Independence

PROF. BAGUS MULJADI : AJARAN LELUHUR NUSANTARA, PENGETAHUAN YANG BELUM DIPATENKAN

The 1979 Iranian Revolution and the Scientific Spirit – Haidar Bagir | Becoming Indonesian #42

