Sepak Terjang Lilis Suryani

Lilis Surjani bukan sekadar penyanyi era 60-an. Ia adalah representasi keberanian, bakat, dan semangat perempuan Indonesia di tengah arus zaman yang bergejolak. Lahir di Jakarta pada 1948, Lilis memulai kariernya pada usia yang sangat belia. Di umur 14 tahun, ia sudah berdiri di hadapan Presiden Soekarno di Istana Negara, menyanyikan lagu "Tjai Kopi" dengan suara merdu yang penuh penghayatan. Kecintaan Bung Karno terhadap kebudayaan lokal membuat penampilan Lilis begitu diapresiasi. Ia bukan hanya sekadar penghibur, tapi simbol semangat bangsa muda Indonesia yang sedang mencari jati diri pasca kemerdekaan. Lilis dikenal luas berkat lagu-lagu yang memuat semangat nasionalisme tinggi. Di tengah suasana konfrontasi Indonesia-Malaysia tahun 60-an, Lilis menciptakan dan menyanyikan lagu seperti "Tiga Malam", "Si Baju Loreng", dan "Kau Pembela Nusa Bangsa". Lirik-lirik tersebut tidak hanya menggambarkan perjuangan, tapi juga mengangkat sisi emosional dari konflik yang tengah berlangsung. "Tiga malam aku menangis, mengenangmu yang pergi berjuang..." — sepenggal lirik yang menggambarkan kesedihan yang menyatu dengan nasionalisme. Ia juga menjadi bagian penting dalam perkembangan musik lenso, genre khas Indonesia yang dipopulerkan Bung Karno sebagai tandingan dari budaya Barat. Bersama Bing Slamet dan Titiek Puspa, Lilis merilis album legendaris Mari Bersukaria dengan Irama Lenso. Pada masa ketika musik rock dari Barat—terutama The Beatles—menjadi simbol pemberontakan budaya, Lilis justru memilih arah berlawanan. Ia menyatakan ketidaksukaannya terhadap rock and roll dan secara terbuka mendukung irama lokal. Hal ini membuatnya dianggap sebagai duta budaya nasional yang selaras dengan kebijakan anti-nekolim Bung Karno. Lilis bahkan membentuk band wanita bernama The Females, dengan anggota seperti Rita Rachman dan Rose Sumanti. Dalam band ini, Lilis tidak hanya bernyanyi tapi juga memainkan drum, instrumen yang kala itu sangat jarang dimainkan oleh perempuan Indonesia. Tidak hanya di dunia musik, Lilis juga melebarkan sayap ke dunia perfilman. Ia bermain dalam beberapa film seperti Bintang Ketjil dan Di Balik Dinding Sekolah, di mana peran-perannya selalu mencerminkan karakter perempuan kuat dan mandiri. Hal ini menjadi kontra narasi terhadap stereotip perempuan pasif yang umum pada masa itu. Salah satu momen krusial dalam hidup Lilis adalah ketika ia menyanyikan lagu Genjer-Genjer, yang kemudian dilarang pasca peristiwa G30S/PKI. Meskipun ia bukan bagian dari gerakan politik mana pun, keterlibatannya dalam menyanyikan lagu tersebut membawa dampak besar pada kariernya. Lagu itu diasosiasikan dengan PKI dan berujung pada pelarangan, sensor, serta penghapusan jejak dari ruang publik. Namun, lagu-lagu lainnya tetap hidup dan diakui sebagai karya seni yang penting dalam sejarah musik Indonesia. Ironisnya, saat namanya mulai meredup di Indonesia, Malaysia justru merangkul karya-karya Lilis. Lagu "Tiga Malam" menjadi sangat populer di Negeri Jiran. Bahkan diva Malaysia Siti Nurhaliza mengakui bahwa Lilis Surjani adalah salah satu sumber inspirasinya dalam bermusik. “Saya mendengar lagu Tiga Malam dari ibu saya, dan saya tahu betapa dalamnya makna lagu itu. Suara Lilis sangat mempengaruhi cara saya bernyanyi.” — Siti Nurhaliza, wawancara TV3. Saat ini, lagu-lagu Lilis dapat ditemukan di berbagai platform digital seperti YouTube dan Spotify. Generasi muda yang penasaran dengan sejarah musik Indonesia akan menemukan sosok Lilis sebagai contoh nyata dari musisi perempuan multitalenta: penyanyi, penulis lagu, drummer, dan aktris. Ia adalah pelopor multitasking sebelum istilah itu populer. Di era di mana perempuan sering kali dibatasi, Lilis berkata lewat tindakannya: “Gue bisa semua, kok.” Lilis Surjani bukan hanya sekadar penyanyi era 60-an. Ia adalah pionir, pemberani, dan pelopor dalam berbagai lini seni. Kisah hidupnya adalah refleksi dari perempuan yang tidak mau dibatasi oleh zaman. Ia menolak hanya menjadi penyanyi panggung dan memilih menjadi seniman utuh—dengan idealisme, keberanian, dan suara yang mengguncang sistem. Warisan Lilis adalah ajakan bagi kita semua untuk tidak melupakan sejarah. Ia membuktikan bahwa suara bisa jadi senjata, dan musik bisa jadi bentuk perlawanan paling indah. CREDITS Host: Rio Jo Werry Producer: Sabda Armandio Director: Johan & Galih Su Video Editor: Johan & Galih Su Quality Insurance: Achmad's