Nelayan Lamakera Bertahan Hidup di Masa Pandemi Covid-19 ( Part 1 )
Melihat Kehidupan Masyarakat Nelayan Lamakera Masyarakat Lamakera terdiri atas dua desa yakni Desa Motonwutun dan Desa Watobuku.Lamakera terletak di ujung timur Pulau Solor,salah satu pulau besar berpenghuni di wilayah Kabupaten Flores Timur,Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagian besar penduduk Lamakera berprofesi sebagai nelayan,sebuah mata pencaharian yang sudah dilakoni sejak turun temurun. Nelayan Lamakera menangkap ikan menggunakan kapal tradisional yang terbuat dari kayu.Kapal penangkap ikan ini sebagian besar dibeli oleh nelayan dan hanya satu dua kapal saja merupakan bantuan pemerintah. Sebagian besar nelayan menangkap ikan menggunakan pukat dengan kapal lampara atau Purse Seine atau kapal biasa memakai jaring apung. Selama masa pandemi Corona sejak tahun 2020 hingga kini,kehidupan nelayan Lamakera mengalami kesulitan. Ikan hasil tangkapan nelayan sebagian besar dijual kepada para perempuan pembakul yang menjualnya ke Waiwerang,Kecamatan Adonara Timur yang terletak di Pulau Adonara. Waiwerang merupakan ibukota kecamatan dan kota yang paling ramai di Pulau Adonara.Waiwerang dan Lamakera di ujung timur Pulau Solor hanya dibatasi perairan Adonara.Dari Lamakera,pelayaran menggunakan perahu tradisional bermesin tempel membutuhkan waktu minimal 30 menit. “Nelayan sering tidak melaut selama pandemi Corona.Terkadang ikan hasil tangkapan sedikit sekali sehingga kami tidak pergi menjual ke pasar di Kota Waiwerang,” kata Jubaidah Suwaib,warga Lamakera saat ditemui Senin (7/6/2021). Jubaidah mengakui,selama pandemi Corona ikan jarang dibeli masyarakat.Banjir bandang yang melanda Pulau Adonara,awal April 2021 membuat banyak jalan putus.Para pembakul yang biasa menjual ikan di Pulau Adonara pun terpaksa tidak berjualan. “Pendapatan kami menurun drastis.Biasanya sebelum pandemi Corona bisa meraih keuntungan Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per hari, selama Corona maksimal Rp50 ribu per hari,” tutur Jubaidah. Selama pandemi Corona,ikan hasil tangkapan nelayan Lamakera sering tidak bisa dijual ke luar daerah seperti ke Kota Waiwerang maupun Kota Larantuka,ibukota Kabupaten Flores Timur karena ada pemeriksaan ketat di setiap pintu masuk wilayah desa maupun kecamatan. Penjualan pun menurun drastis bahkan ikan selar,layang,tongkol,cucut,tembang dan lainnya sering tidak terjual dan terpaksa dijadikan ikan asin.Harga jual ikan pun menurun drastis sehingga membuat nelayan dan pembakul mengalami penurunan pendapatan hingga 50 persen. Meski demikian,para nelayan tetap melaut dan menjual ikan mereka di para pembakul dengan harga jual yang jauh lebih murah. “Selama pandemi Corona sulit sekali menjual ikan. Sehari biasanya menangkap ikan cakalang dan tuna dan menjualnya di pembakul,” ujar Sulaiman,nelayan Lamakera. Sulaiman mengaku biasa menangkap ikan tongkol,cakalang dan tuna. Sebelum Corona,ikan cakalang dan tuna dijualseharga Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per ekor. Selama pandemi Corona dijual dengan harga Rp20 ribu per ekor sehingga pendapatan yang diperoleh pun menurun. “Selama pandemi Corona kami nelayan sulit sekali memasarkan ikan hasil tangkapan kami.Paling-paling hanya dijual ke pembakul di desa kami dengan harga murah.Kami juga tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah,” ucapnya. #lamakera #lamakerasolortimur #nelayanlamakera #nelayanntt #kapalikan
