ILMU KERIS WARISAN PARA SESEPUH PAMETRIWIJI

#keris #dhuwung #budaya #budayajawa #pusaka #nguribudaya #pametriwiji #ilmukeris Tepat hari Sabtu, 17 April 2021 Pametri Wiji Yogyakarta Ulang tahun ke 38 Tahun. Banyak cerita dan pengalaman tentang dunia perkerisan khususnya di Yogyakarta di era 90an pada saat itu, tentunya dengan perkembangan dan keilmuan yang ada saat itu hingga memunculkan istilah2 dalam dunia perkerisan.. Yang diulas tuntas oleh KRT Kusumanegara & Bp. Boedhi Aditya.. Sejarah Singkat Pendirian Pametri Wiji Perkumpulan penggemar tosan aji Pametri Wiji lahir setelah melalui rangkaian proses yang cukup panjang. Di jaman dahulu, sebelum terdapat suatu wadah resmi bagi pengemar tosan aji untuk berkumpul dan berdiskusi, kegiatan serupa sudah kerap kali dilakukan secara informal oleh para pemerhati budaya tosan aji. Tetapi sarasehan dan diskusi tersebut sifatnya tertutup dan hanya diikuti oleh sedikit peserta yang sudah saling mengenal, sehingga sulit sekali bagi orang awam untuk belajar dan mendalami budaya tosan aji. Dengan situasi yang demikian, pengertian dan pemahaman tentang budaya tosan aji sulit sekali dipelajari dan menyebar, dan pada akhirnya dapat mengakibatkan punahnya budaya tosan aji di Indonesia. Prihatin dengan situasi tersebut dan terilhami oleh organisasi penggemar tosan aji “Bowo Roso” yang telah berdiri terlebih dahulu di Surakarta, penggemar tosan aji Yogyakarta yang dipelopori oleh RM. Supono dan Suwarsono Lumintu mengemukakan ide untuk membentuk suatu wadah perkumpulan bagi penggemar tosan aji di Yogyakarta yang akan mengkaji segala hal yang bersangkutan dengan tosan aji, serta terbuka untuk umum guna memudahkan masyarakat awam untuk mempelajari budaya tosan aji. Ide tersebut kemudian disampaikan kepada penggemar tosan aji lainnya di Yogyakarta, dan setelah melalui rapat-rapat kecil di kediaman Bapak Suwarsono Lumintu yang dihadiri antara lain oleh Ir. Haryono Arumbinang, M.Sc., RM. Widitomo dan KRT Tarunaseputra, kemudian disepakati untuk segera merealisasikan ide tersebut. Akhirnya, pada hari Minggu Pon tanggal 17 April 1983 dalam suatu sarasehan penggemar tosan aji di Dalem Mangunkusuman, didirikanlah suatu perkumpulan penggemar tosan aji yang diberi nama Paheman Memetri Wesi Aji yang disingkat PAMETRI WIJI. Nama tersebut diusulkan oleh KRT Puspodiningrat, yang juga menciptakan lambang Pametri Wiji berupa Mahkota dengan gambar gatra dan trisula ditengahnya, yang sekaligus merupakan suryasengkala tahun berdirinya Pametri Wiji, yaitu “ TRISULA ING TENGAHING GATRA RATU “ Pada saat pertama kali didirikan, Pengurus Pametri Wiji terdiri dari Ketua Umum yang dijabat oleh KPH Mandoyokusumo, Ketua Harian yang dijabat oleh Ir. Haryono Arumbinang, M.Sc., Wakil Ketua Harian yang dijabat oleh Drs Kardono, serta Sekretaris dan Bendahara, yang masing-masing dijabat oleh Suwarsono Lumintu dan RM Widitomo, dan Drs. KGPH. Poeger sebagai Pelindung. Kegiatan rutin yang dilakukan oleh Pametri Wiji adalah Sarasehan yang digelar pada hari minggu yang ketiga tiap bulannya dan terbuka untuk umum, bertempat di Dalem Mangunkusuman, Jl. Ibu Ruswo No. 45 Yogyakarta. Satu tahun setelah didirikan, Pametri Wiji mendapat kepercayaan dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk turut serta meramaikan acara perayaan Sekaten, dengan menampilkan pameran tosan aji koleksi anggotanya di Sitihinggil Karaton Ngayogyakarta.