Morning walk to Jembatan Ampera Brigde Palembang❗Jembatan Sungai Musi Palembang - South Sumatera
Walking MAp : http://bit.ly/2Q9eNKh https://en.wikipedia.org/wiki/Ampera_... Ampera Bridge (Indonesian: Jembatan Ampera, for Amanat Penderitaan Rakyat, a now-rarely-used colloquial name for the preamble of the Constitution of Indonesia), formerly Bung Karno Bridge (Indonesian: Jembatan Bung Karno, after President Sukarno) between its opening and 1966, is a vertical-lift bridge in the city of Palembang, South Sumatra, Indonesia. It connects Seberang Ulu and Seberang Ilir, two regions of Palembang. It can no longer be opened to allow ships to pass. The bridge was planned during the era of Indonesia's first president, Sukarno, who wanted a bridge that could open and be a match for London's Tower Bridge. The funds for the construction came from Japanese war reparations, with Fuji Heavy Industries being given responsibility for design and construction. However, at the time, Japan had no bridges of this type, and Fuji Heavy Industries had no bridge-building experience. The official opening was carried out by Minister and Commander of the Army Lieutenant General Ahmad Yani on 30 September 1965, only hours before he was killed by troops belonging to the 30 September Movement. At first, the bridge was known as the Bung Karno Bridge, after the president, but following his fall, it was renamed the Ampera Bridge https://id.wikipedia.org/wiki/Jembata... Jembatan Ampera (Amanat penderitaan rakyat) adalah sebuah jembatan di Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Panjang Jembatan 1.177 m, lebar 22 m (bagian tengah 71,90 m, berat 944 ton dan dilengkapi pembandul seberat 500 ton), semua bagian tengah bisa diangkat agar kapal-kapal besar bisa lewat namun sejak tahun 1970 bagian tengah sudah tidak dapat diangkat lagi. Bandul pemberatnya pada tahun 1990 dibongkar karena dikhawatirkan dapat membahayakan. Tinggi jembatan ini 11,5 m dari atas permukaan air, tinggi menara 63 m dari permukaan tanah dan jarak antara menara 75 m Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Wali kota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi. Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk nama Sungai Musi yang dilintasinya, pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebetulnya tergolong nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00. Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatra Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Wali kota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu. Pada awalnya, bagian tengah dan bagian belakang dan bagian depan badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit. Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai. Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya. Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini #walkingaround #JembatanAmperaPalembang #Palembang #JembatanAmpera #StasiunLRTAmpera #StasiunAmpera #AmperaPalembang #SungaiMusi #Pasar16ilir

AN AFTERNOON WALK ON THE AMPERA BRIDGE IN PALEMBANG CITY!! FUN AND CROWDED!!

Kawasan Sungai Musi Semakin Hidup! Liputan Terbaru Perkembangan Kota Palembang

Jaga Jakarta Agar Tidak Tenggelam | Halo Indonesia

TEDDY TERLALU KUAT, MAHASISWA GAK AKAN BERHENTI BERGERAK ⁉️ - Connie Rahakundini (Blak-Blakan #161)

Most Cheap Afghan Street food Compilation | Top 3 Viral Videos Collection

FLY OVER MATRAMAN FULL TERSAMBUNG || LRT JKT FASE 1B UPDATE 24 MEI 2026

England – Ghana Highlights | Gruppe L, FIFA WM 2026 | sportstudio

Walking around Bangirejo❗Jalan Magelang ⇨ P. Mangkubumi via Bangirejo, Pakuningkratan Yogyakarta

Impossible Places | Geological Wonders Scientists Can’t Explain | 4K Documentary

Germany: 16 States, Why So Different?

Pemandangan indah perjalanan dari Desa Mangli ke Wisata Nepal Van Java lewat Kaliangkrik Magelang❗

MANHATTAN EVENING, 5th Avenue Walking Tour 4K

Crossing the Musi River in Palembang

Why is Batam More Modern & Free Than Other Cities in Indonesia?

Motovlog from Musi 2 Bridge via Musi 6 to Ampera Bridge Palembang

Portugal - Usbekistan, Highlights mit Livekommentar | FIFA WM 2026 | MAGENTA TV

SERU BANGET SEMUA KITA COBAIN!MAKAN PANIPURI,NAIK BUS LOKAL,COBAES TEBU LEGEND,NEMU BUAH JADUL INDIA

Trump Sends Vance to Concede to Iran & Reflecting Pool Is Filled with Corruption | The Daily Show

How People Live in the Strait of Hormuz | The World's Most Dangerous Strait | 4K Travel Documentary

