Seni Sunda Ciawian & Cigawiran

Tembang Sunda merupakan seni musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Kesenian ini biasanya ditampilkan oleh seorang penyanyi dengan iringan permainan alat musik tradisional Sunda seperti kacapi indung (kecapi besar), suling, kacapi rincik (kecapi kecil) dan rebab. Yang sering dikenal masyarakat adalah Cianjuran dan Ciawian/Pageurageungan. Di tempat kelahirannya, Cianjur, pada awalnya kesenian ini disebut mamaos. Dinamakan tembang Sunda Cianjuran sejak tahun 1930-an dan dikukuhkan tahun 1962 ketika diadakan Musyawarah Tembang Sunda sa-Pasundan di Bandung. Materi mamaos berasal dari berbagai seni suara Sunda, seperti pantun, beluk (mamaca), degung, serta tembang macapat Jawa, yaitu pupuh. Lagu-lagu mamaos yang diambil dari vokal seni pantun dinamakan lagu pantun atau papantunan, atau disebut pula lagu Pajajaran, diambil dari nama keraton Sunda pada masa lampau. Sedangkan lagu-lagu yang berasal dari bahan pupuh disebut tembang. Selain Cianjuran dan Ciawian/Pageurageungan, masih ada satu lagi tembang Sunda yang tidak banyak diketahui masyarakat luas yakni Tembang Cigawiran. Cigawiran merupakan seni vokal yang mempunyai kekhususan dan berbeda dengan lagam-lagam tembang lainnya, meski demikian Cigawiran tetep dikategorikan sebagi salah satu jenis Tembang Sunda yang mempergunakan lagam atau ala Cigawir. Cigawiran memiliki karakteristik dan kekhasan tersendiri dan berkembang di lingkungan yang khusus pula. Kesenian ini tergolong Sekar Merdika. Tembang Sunda yang satu ini berkembang di lingkungan pesantren dan dijadikan sebagai media untuk berdakwah. A. Ginanjar Sya’ban dalam buku Ensiklopedia Islam Nusantara, – Edisi Budaya – menuliskan Cigawiran adalah seni tarik suara Islam Nusantara yang berasal dari desa Cigawir, Garut, Jawa Barat (Sunda). Tembang Cigawiran berbeda dengan tembang-tembang khas Sunda lainnya, seperti Cianjuran dan Ciawian, karena selain memiliki cengkok dan karakter yang khas, Cigawiran juga sangat kental dengan nuansa Islaminya. Cigawiran bisa dikatakan salah satu produk seni-budaya hasil akulturasi antara agama Islam dengan budaya lokal. Cigawiran menjadi jenis seni tembang dan budaya Islam Sunda yang unik karena berasal dan lahir dari rahim pesantren yang notabene adalah basis utama perkembangan dakwah agama Islam di Nusantara. Dalam sejarahnya, tembang Cigawiran dikembangkan oleh Raden Hadji Djalari pada tahun 1823 M. Beliau adalah salah seorang ulama dari desa Cigawir, Garut, yang juga Cigawiran (Garut, Jawa Barat) mengasuh sebuah pesantren di sana. Raden Hadji Djalari bukan hanya piawai dalam ilmu-ilmu agama Islam, tetapi juga mahir dalam kesenian Sunda, utamanya kesenian tembang.