Salah Asuhan karya Abdul Moeis (1928)

Novel Salah Asuhan dikarang selama masa kolonial dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, penerbit buku-buku yang "cocok untuk bacaan pribumi Indonesia". Agar mendapat izin terbit pada masa itu, sebuah buku perlu menghindari tema pemberontakan dan menggunakan bahasa Melayu formal.[1] Selain itu, Salah Asuhan harus ditulis kembali dengan karakter Eropa yang bercitra positif setelah Balai Pustaka menolak menerbitkannya. Novel ini dapat disebut sebagai novel multi dimensi, yang menceritakan banyak persoalan, termasuk antar bangsa maupun antar suku. Novel ini juga memberi gambaran tentang budaya dan ekonomi bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Hal yang jelas terlihat, bagaimana novel ini mengemas permasalahan hegemoni kekuasaan Belanda terhadap bangsa kita.[2] Novel Salah Asuhan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh George Fowler dengan judul Never the Twain dan diterbitkan oleh Yayasan Lontar pada tahun 2010.