Saptapitu // composed by Oscar Smith (2024) // performed by Nada Tuju
Tabuh Saptapitu (for Gamelan Selonding), direkam jam 7, tanggal 7, bulan 7 (recorded at 7am, 7th of July) Grup: Nada Tuju, didirikan oleh/founded by I Putu Suta Muliartawan (Jo) di/in Banjar Baturiti, Kerambitan, Tabanan, Bali. Sinopsis (English below) Dalam karya ini, saya mengekplorasi apa yang bisa dilakukan dengan nomor tujuh (jumlah nada yang ada di dalam sistem nada gamelan Bali) sebagai referensi durasi untuk semua siklus melodi yang ada di komposisi ini. Judul karyanya menandai ide ini melalui memakai dua kata untuk "tujuh" yang ada di Basa Bali, yaitu "Sapta" (dari bahasa Sanskerta) dan "Pitu" (dari bahasa-bahasa Austronesia). Bagian pengawak (yang mengawali karyanya) punya beberapa frase yang berupa panjang tujuh ketukan. Frase ini diornamentasi dengan motif-motif yang mirip motif tradisional Gamelan Selonding, seperti ngucek, tapi dengan bentuk yang tidak biasa tapi sesuai dengan kebutuhan melodi dalam rangka tujuh. Ini terinspirasi oleh karya Piwal III oleh Putu Septa. Bagian pengecet (yang cepat) memakai cara perubahan irama yang saya menemukan di cara menabuh gending-gending Sekatian di Banjar Mekarsari, Padangtegal. Di banjar itu, melodi yang sama dilambatkan supaya durasi di antara setiap nada dalam melodinya lebih besar, supaya lebih banyak subdivisi bisa dimasukkan. Saya meniru efek ini, tapi saya memodulasikan melodinya ke patet berbeda, yaitu Sunaren, jadi walaupun melodinya sama dari perspektif contour, bentuk melodinya berubah. Ini didekorasikan dengan kotekan, termasuk yang tidak lazim: seperti yang punya panjang tiga ketukan (bukan dua seperti sering ada dalam bahasa kotekan) dan yang terakhir dalam siklus Pengecet yang berupa motif "gopucayati" dari musik India Selatan, karena frasenya secara sistematik dikurangi. Walaupun tempo bagian Penyuwud yang paling lambat, siklus pola Nyong-nyong berpanjang tujuh pulse, jadi sebenarnya siklus ini yang paling pendek. In this piece, I explore what can be done with the number seven (the number of pitches in the pitch system of Balinese gamelan) as a durational reference for each of the melodic cycles. This is indicated by the title's use of two words for seven that co-exist in Balinese: sapta (from Sanskrit) and pitu (from Proto-Austronesian). The pengawak section (the first section) has phrases each of seven beats long. These phrases are ornamented with motifs that are similar to those found in traditional Gamelan Selonding repertoire, e.g. "ngucek", but with unusual shapes as constrained by the seven-beat framework. This section was inspired by Putu Septa's piece "Piwal III". The pengecet section (the fast part) uses a tempo change effect that I found in the way Sekatian pieces are played in Banjar Mekarsari Padangtegal, Ubud, where a repeated melody is slowed down to spread out the durations between each melody note, thereby allowing extra space for faster rates of subdivision to be squeezed in, at once slowing and speeding up the rhythmic experience. I mimic this effect but at the same moment modulate to another mode (Sunaren) so although the melody has the same contour, the intervallic relationships are now different. This part is decorated with kotekan motifs, including some irregular ones, such as a 3-beat one (instead of the usual 2-beat patterns) and one with a ngucek-like shape but systematically reduced in length as in gopucayati patterns in South Indian music. Although the tempo of the Penyuwud (closing) section are the slowest, the Nyong-nyong part is 7 only pulses long (not 7 beats), actually making this the shortest cycle. Nada Tuju Petuduh (tengah/centre): I Putu Suta Muliartawan (Jo) Nyong-nyong Alit (kiri/left): I Putu Agus Wahyu Budiyasa (Wahyu) Nyong-nyong Ageng (kanan/right): I Putu Daniswara (Dani) Ceng-ceng (tengah belakang/centre back): I Putu Gede Adi Pravesa Kusuma (Beto) Kempul/Suling (belakang kiri/back left): I Gede Yudana (Yudana) Gong/Suling (belakang kanan/back right): Gusti Made Wijaya Kusuma (Gusma) Audio Engineer/Tukang Rekam: Yan Priya Kumara (Janu), Citranala Records Video: Augustine Esterhammer-Fic @esterhammerfic Lokasi: Citranala Art Studios, Tabanan Funding from SSHRC Canada https://musiccycles.arts.ubc.ca

Gending" Selonding Kerambitan

Peserta 07 - SEKAR GADUNG - Sekaa Selonding PARWATI - Women’s Selonding Competitions

Bali's Amazing, Interlocking Gamelan Music - feat. Nata Swara & KOBRA

Saptapitu

Tuning of Gamelan and Sensory Dissonance

Legong Kreasi Puspa Jayeng Latri

BALAGANJUR MENDAK DANGSIL - BEBANUAN (Yowana Putra Yudha)
![[Viral🔥] Rindik Saih Pitu - Sandikala || Tabuh Bernuansa Magis Bikin Merinding](https://i.ytimg.com/vi/dcU6MWcfsI0/hqdefault.jpg?sqp=-oaymwEjCNACELwBSFryq4qpAxUIARUAAAAAGAElAADIQj0AgKJDeAE=&rs=AOn4CLC7ZRs1iFcSTprf9sBi87UE8zbWeg)
[Viral🔥] Rindik Saih Pitu - Sandikala || Tabuh Bernuansa Magis Bikin Merinding

Keren GERAK TARInya | Kemunculan SUN GO KONG & Banyolan Clekontong Mas - Calonarang Kapi Gawukong

Legong Kreasi "Wanci Lubeng" || Recording Session

GENDING ANDA SAHAT - Saih Panji Marga - GAMELAN SELONDING

Ujian Akhir Isi Denpaasar 2025"Tabuh Pitu Kreasi Pepanggulan Saptapitu".

Ayuning

Bebonangan “Padu Arsa” - Remaja Cudamani

BALAGANJUR | PACEK POLENG | GELUNG AGUNG

Tabuh Selonding Bali

Musik Iringan Tari " Sri Sedana"

SEKA GONG LEGENDARIS BADUNG CANDRA PANGAN SIBANG GEDE - TABUH PISAN BANGUN ANYAR | PKB TAHUN 2022

SANGA-sia // composed by Oscar Smith (2024) // performed by Nata Swara

