Ketika Puluhan Ribu Tentara Inggris Dikirim ke Afghanistan, dan Hanya Satu yang Pulang Hidup-Hidup

Januari 1842. Di tengah badai salju yang mengamuk di celah-celah Hindu Kush, sebuah barisan sedang merayap menuju kematian. Enam belas ribu lima ratus jiwa bersama puluhan ribu tentara, perempuan, anak-anak, juru masak, pelayan, berjalan meninggalkan Kabul dengan satu harapan: mencapai Jalalabad dan selamat. Tapi apa yang menunggu mereka bukanlah keselamatan. Apa yang menunggu mereka adalah para penembak Ghilzai dengan senapan jezail yang bisa membidik dahi dari atas tebing. Adalah dingin yang membekukan darah. Adalah janji aman dari seorang pangeran bernama Akbar Khan, janji yang terucap dengan senyum, tapi ditulis dengan tinta pengkhianatan. Enam hari kemudian, dari enam belas ribu lima ratus orang yang berangkat, hanya satu yang tersisa. Satu. Seorang dokter bernama William Brydon, yang tiba di gerbang Jalalabad dengan tubuh compang-camping dan luka menganga, lalu memberikan jawaban yang akan menghantui imperium Inggris selamanya: "Saya adalah pasukan itu." Bagaimana mungkin sebuah imperium yang menguasai seperempat dunia bisa dihancurkan oleh para penembak gunung? Bagaimana mungkin enam belas ribu nyawa lenyap hanya dalam enam hari? Dan siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas bencana ini, jenderal tua yang ragu-ragu, birokrat yang memotong subsidi, atau para pria di London yang memutuskan perang sambil menyeruput teh? Saksikan sejarah lengkapnya dalam video ini! Music track: The Last Knight by Aylex Source: https://freetouse.com/music No Copyright Music (Free Download) Music track: Glorious by Aylex Source: https://freetouse.com/music No Copyright Music (Free Download)