NU Harus Diurus Orang yang Tidak Punya Kepentingan

RUANG PUBLIK, JAKARTA - Di tengah ramainya perdebatan soal konflik elite PBNU, kemandirian organisasi, hingga tantangan demokrasi di Indonesia, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidillah Shodaqoh (Mbah Ubaid), menyampaikan pandangan yang lugas dan membumi. Dalam perbincangan bersama Ahmad Rozali di Ruang Publik, Mbah Ubaid menjelaskan mengapa NU harus tetap hadir ketika negara tidak mampu menjangkau kebutuhan masyarakat. Ia juga mengulas pentingnya kaderisasi, budaya silaturahmi, kekuatan iuran warga, hingga bagaimana membangun organisasi yang solid tanpa bergantung pada kekuasaan. Salah satu pernyataan yang paling menarik adalah ketika Mbah Ubaid menegaskan bahwa NU sebaiknya diurus oleh orang-orang yang tidak memiliki terlalu banyak kepentingan di luar organisasi. Menurutnya, ketika kepentingan lain bertabrakan dengan pengabdian kepada NU, sering kali NU yang justru dikalahkan. Selain itu, Mbah Ubaid juga berbicara tentang: Konflik dan proses islah di tubuh PBNU Situasi Menjelang Munas, Konbes, dan Muktamar NU Peran NU sebagai kekuatan masyarakat sipil Kondisi demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia Kemandirian ekonomi NU melalui iuran warga dan usaha organisasi Pentingnya pemimpin yang mengayomi, mendengar, dan dekat dengan kader Mengapa persaudaraan menjadi modal terbesar dalam membangun NU Perbincangan ini tidak hanya membahas dinamika internal NU, tetapi juga menawarkan refleksi tentang kepemimpinan, pengabdian, dan masa depan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. ---- 00:00 Opening & Pengantar Mbah Ubaidillah Shodaqoh 02:18 Budaya Jagongan dan Cara Menyelesaikan Masalah ala NU 07:15 Rahasia Kekompakan PWNU Jawa Tengah 13:08 Kaderisasi, PKPNU, dan Konsolidasi Warga NU 18:24 Persaudaraan sebagai Modal Utama Organisasi 22:40 Mengapa Kader NU Mau Iuran dan Berjuang Bersama? 27:15 Kesederhanaan Pemimpin dan Kekuatan Mengemong Kader 31:40 NU sebagai "Second Line" Negara 36:55 Peran Kiai dalam Advokasi Masyarakat dan Kasus Kendeng 43:20 Konflik PBNU, Islah, dan Peran Kiai Sepuh 49:35 Demokrasi, Kritik Publik, dan Kondisi Indonesia Saat Ini 57:10 Apa yang Bisa Dilakukan NU di Tengah Kemunduran Demokrasi? 1:01:40 Kemandirian NU: Iuran, Koin, dan Usaha Mandiri 1:10:30 Kisah Sukses NU di Sragen, Kebumen, dan Jawa Tengah 1:16:45 Menghadapi Kader yang Mutung dan Menjaga Kekompakan 1:20:30 Mengapa Pengurus NU Harus "Pengangguran Intelektual"? 1:24:45 Menjelang Muktamar NU: Tantangan dan Harapan 1:30:20 Pemimpin NU yang Dibutuhkan Masa Depan 1:35:10 Muktamar Sederhana di Pesantren vs Hotel 1:41:25 Filosofi NU: Lebih Baik Ruwet Bersama daripada Berpisah 1:44:05 Penutup Kunjungi juga akun sosial media kami: Instagram:   / ruangpublik.idn   Tiktok:   / ruangpublik.idn   #nuonline #nahdlatululama #pbnu #nahdliyin #pwnujateng #demokrasiindonesia #islamindonesia #ruangpublik #ahmadrozali #kiainu #pesantren #civilsociety #gusyahya #gusipul #gusmuwafiq #gusyusuf