PUISI DONGENG KHATULISTIWA - RASTONO SUMARDI
Di garis khatulistiwa, yang dibalut zamrud hijau, orang-orang tua dahulu berkisah, tongkat yang ditancapkan ke tanah akan tumbuh menjadi pohon kehidupan. Entah itu dongeng, atau nyanyian yang terlalu lama diulang, hingga dipercaya sebagai kenyataan. Negeriku memang kaya, lautnya luas seperti harapan, hutannya lebat seperti doa-doa leluhur, perut buminya menyimpan emas, nikel, dan bara. Namun anehnya, di negeri yang berlimpah ini, kemiskinan masih duduk setia di beranda rumah-rumah rapuh. Orang-orang kaya tertawa di atas menara kaca, sementara rakyat kecil menghitung receh di sisa senja. Ada yang meneguk laba dari ribuan hektar tanah, sementara yang lain berjuang mempertahankan sejengkal pekarangan, agar tidak hilang dari peta. Tanah dibagi atas nama pembangunan. Hutan ditebang atas nama kemajuan. Sungai dialihkan atas nama investasi. Dan rakyat diminta percaya, bahwa semua ini adalah jalan menuju kemakmuran. Tetapi kemakmuran itu terlalu sering salah alamat. Ia singgah di ruang rapat, di balik meja-meja berpendingin udara, di laporan-laporan yang penuh angka. Sementara di kampung-kampung, anak-anak masih belajar arti lapar. Petani menjual keringat lebih murah dari pupuk. Nelayan menantang ombak demi makan malam keluarganya. Katanya negeri ini milik bersama, namun mengapa sebagian memiliki segalanya, dan sebagian lainnya harus meminta izin untuk bertahan hidup. Oh negeriku yang kaya raya, yang tanahnya subur, yang lautnya luas, yang langitnya tak pernah pelit cahaya. Kapankah kekayaanmu benar-benar menjadi milik anak-anakmu? Kapankah rakyat tak lagi menjadi penonton di rumahnya sendiri? Kapankah keringat bangsa ini menjadi sumber kemakmuran bangsa ini? Tanpa menjual masa depan kepada keserakahan. Aku masih ingin percaya, bahwa suatu hari nanti anak negeri berdiri di atas kakinya sendiri, berdaulat dalam pikiran, mandiri dalam karya, bermartabat dalam kesejahteraan. Ataukah itu juga akan menjadi dongeng, yang diceritakan berulang-ulang di bawah langit khatulistiwa. Kotamobagu, 25 April 2022

MERDEKA YANG TERUS BELAJAR | Puisi Refleksi HUT RI ke-81 | Rastono Sumardi

Lagu HUT Ke-66 Banggai - Torang Bangga Banggai - Karya Rastono Sumardi

BODYBUILDERS Laughed at Him Again… Until Anatoly Was ATTACKED 😱💪🧹 | Gym Prank GONE Wild

LAUT SYIAH KUALA - PUISI RISSA CHURRIA

Norah Jones & Eric Clapton - Gentle Thunder 🎸 | Acoustic Blues Soft Rock Jazz Fusion 2026

Ex-YouTube Employee Explains the Algorithm

Beautiful Relaxing Music - Stop Overthinking, Stress Relief Music, Sleep Music, Calming Music #177

INSIDER LEAK! SUBTLE COUP, AND SIGNS OF FRACTURES IN THE PRABOWO COALITION

The Most Effective and Easiest Way to Get Rich After 40 Years of Age

10 Things Indonesia Does Better Than Most Countries!

Ubuntu Voices | Voices That Bring Deep Peace 🤍✨ | Sacred African Choir & Healing Harmony

LAGU DIRGAHAYU KE-66 BANGGAI - MENYULAM HARAPAN DI USIA 66 TAHUN BANGGAI - KARYA RASTONO SUMARDI

Alone with God : Instrumental Worship & Prayer Music With Scriptures & Autumn Scene 🍁CHRISTIAN piano

PROOF Jim Carry is the KING of Comedy!

ROCKY GERUNG VS PROF STELLA CHRISTIE, DUET PALING SPEKTAKULER ABADI INI, ORASI ILMIAH DEPAN MENTERI

Take Me Home, Country Roads, Let It Be, Green Green Grass of Home - Classic Country Playlist Song

10 Chinese Savings Strategies That Secretly Make You Rich

Was du über deinen Arzt nicht wissen willst

eńau feat. Ari Lesmana - Sesi Potret (Official Music Video)

