PENAKLUKAN BRAWIJAYA OLEH SUNAN KALIJAGA || CAK NUN || #caknun #maiyah #tanahjawa #majapahit

Kenapa Kalijaga hanya meletakkan diri di pinggiran. Memandu proses transformasi. Bedhol negoro. Transmigrasi atau Imigrasi massal. Membagi wilayah-wilayah martabat semua pihak secara bijaksana. Mengkader kepemimpinan sebagian dari 117 putra Brawijaya V untuk mengayomi penduduk-penduduk Jawa dan Nusantara. Mengalihkan secara strategis wilayah pijak pemerintahan baru. Termasuk mengayomi dan menyiapkan Pesanggrahan proses “mendita”nya Brawijaya V di tlatah Gunung Lawu. Karena Raja terakhir Majapahit ini tidak mau memotong rambut panjangnya, sebagai sanepan bahwa ia tidak mau begitu saja “ditelan” atau “menelan” Islam. Melepas secara demokratis mobilitas bedhol negoro ke arah barat maupun ke timur hingga wilayah Kerajaan Klungkung, yang memang merupakan imigran perintis dari Majapahit. Kenapa Sunan Kalijaga tidak menyetujui niat untuk memusuhi Majapahit? Sehingga tanpa bisa dikendalikan akhirnya terjadi dua kali bentrok yang menewaskan Bapaknya Sunan Kudus. Kenapa ia mengahalangi niatan untuk mengkudeta kekuasaan Majapahit. Meskipun kemudian Sunan Kalijaga gagal melindungi Nyoo Lai Wa, Gubernur terakhir Provinsi Majapahit, yang dikeroyok oleh rakyatnya sendiri yang mengamuk karena pemimpinnya tidak mampu membangkitkan kembali kejayaan Majapahit seperti dulu. Daripada Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya bertengkar tak habis-habis melawan Arya Penangsang yang merasa berhak atas tahta, atau ada latar belakang yang lain, misalnya Ahlussunnah vs Syi’ah. Sampai-sampai Pangeran Benowo, putra Hadiwijaya, bosan dan jijik terhadap perilaku politik nasional, sehingga menyingkir dan “mendita” dini ke daerah Banyumas dan mendirikan Pesantren – kenapa Sunan Kalijaga tidak ambil alih saja kekuasan Demak dan kemudian Pajang? Kenapa bukan Sunan Kalijaga saja yang naik tahta menjadi Pemimpin Nasional bangsanya? Sampai-sampai keturunan ke-9 Benowo saya desak untuk naik tahta di Istana NKRI. Yakni Pangeran Abdurrahman Wahid. Dengan menyiapkan segala mekanisme politik dan strategi pemenangannya. Turunan-9 ini harus mudik ke Istana, membayar hutang kakek buyutnya Pangeran Benowo. Lain pasal bahwa kemudian yang berlangsung tidak sebagaimana yang saya bayangkan. #caknun #sunankalijaga #brawijaya #majapahit Jadi kenapa bukan Sunan Kalijaga saja yang menjadi Raja? Kenapa bukan Nabi Khidlir saja yang tampil menaklukkan Fir`aun? Apa susahnya bagi Khidlir untuk “nylentik” Fir`aun? Kenapa harus Musa yang melawan, yang berguru kepada Khidlir terbukti tidak lulus? Kenapa? Itu tidak rasional menurut asas dan prinsip aktivisme. (Baca juga: Pilgub, Pilpres, Pilnab, dan Piltu Menurut Cak Nun) Mungkin karena Negoro sudah bedhol dari diri Sunan Kalijaga. Mungkin Negara bukan arena di mana Sunan Kalijaga memperjuangkan dirinya. Negara bersemayam di ruang cinta kalbunya. Sunan Kalijaga sudah selesai dengan dirinya. Ia tidak memerlukan Negara untuk minta atau menagih hak apa-apa. Ia justru yang bertugas untuk bershadaqah kepada Negara, menyayangi rakyatnya, mengelola sebisa-bisa kadar kemashlahatan penduduknya. Tapi kenapa bukan Sunan Kalijaga saja yang minimal “main urat leher” dan menjadi Raja? Kenapa? Apakah karena ia “zuhud”? Tidak mau mengemis kepada Negara? Ataukah ada pihak lain yang me-Raja-kan seseorang? Baik untuk maksud pelimpahan rahmat, untuk ujian, untuk peringatan, atau untuk hukuman? Atau malah ada pihak lain lagi yang me-Raja-kan seseorang untuk program penaklukan dan penguasaan.