Sejarah Puri Beraban Jembrana
Sejarah Puri Beraban Jembrana Om Swastyastu Sejarah Puri Beraban Jembrana ini disusun berdasarkan : Sumber Utama : Prasasti/silsilah Puri Beraban Jembrana, oleh : I Gusti Agung Made Pasatan, Anggara Kliwon, Wuku Dukut, 28 Pebruari 1922, Refrensi : Silsilah Keturunan Raja Jembrana (Kerajaan Jembrana Dari Tahun 1705-1857) Oleh : Anak Agung Kade Arsana, Puri Gde Jembrana, 16 September 1973 Sejarah Puri Beraban Jembrana diawali dengan kedatangan putra raja mengwi III ( putra Cokorde Nyoman Alangkajeng) yaitu I Gusti Alit Takmung ke jembrana. Kedatangan I gusti Alit Takmung ke Jembrana karena permohonan seorang bangsawan dari Berangbang bernama I Gusti Made Yasa kepada Raja Mengwi agar ketuturunan beliau raja mengwi bisa dinobatkan menjadi raja di Jembrana. Permohonan tersebut disanggupi dan diberikanlah putra beliau yaitu I Gusti Alit Takmung untuk dinobatkan menjadi raja di Jembrana . Beliau datang ke Jembrana dengan membawa keris pajenengan yang bernama : Ki Tatasan Karena beliau masih muda (kari alit) kedatangan beliau ke Jembrana diabih oleh paman beliau dari ibu yang sekarang ini menurunkan keluarga besar Puri Kaleran Jembrana. Selain itu beliau diiringi oleh kurang lebih 400 warga masyarakat dengan 4 pasukan inti yaitu : 1. Pasukan Gegem yang bertugas memikul raja. 2. Pasukan Tulup bertugas sebagai pengamanan raja, 3. Pasukan Punadesa bertugas mengatur kegiatan raja. dan 4. Pasukan Panasan yang bertugas sebagai pembantu umum. Beliau I Gusti alit Takmung dinobatkan sebagai raja jembrana pertama pada tahun 1705 dengan gelar I Gusti Ngurah Jembrana. I Gusti Ngurah Jembrana sebagi raja jembrana I memerintah dari tahun1705 sampai dengan tahun 1746. Beliau banyak jasanya dalam membangun desa adat jembrana. Pada tahun 1710 beliau mendirikan Pura Candi Rawi yang digunakan sebagai pusat pelaksanaan upacara agama (panca yadnya) karena pada waktu itu belum ada pendeta Brahmana-Siwa. Lokasi Pura beberapa kali mengalami perpindahan, dan sekarang ini ada di sebelah utara Puri Gede Jembrana yaitu Desa Batuagung. Untuk pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, maka dibangulah Pura Gede Jembrana sekitar tahun 1715. Pura ini dibangun mengingat bahwa pada waktu itu keberadaan Pura Rambut Siwi dan Pura Gede Perancak yang saat itu terasa sangat jauh dan sulit dijangkau oleh masyarakat, maka dibangunkan sebuah pelinggih sebagai pengayatan Ida Bhatara Sakti Wawu Rauh atau Ida Dang Hyang Nirarta, serta sebuah pelinggih untuk kesejahtraan para petani/subak sekalian ngaturang sarin tahun setelah panen petani berhasil. Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan Pura Taman sekitar tahun 1728. dengan pekuburan keluarga Raja berupa setra yang saat ini berada di wilayah kelurahan Dauhwaru. Dan sampai saat ini merupakan makam keluarga khusus yang tergabung dalam suatu peguyuban keluarga. I Gusti Ngurah Jembrana memiliki 2 putra yaitu I Gusti Gede Agung dan I Gusti Made Ngurah. Namun I Gusti Agung Gede Agung meninggal pada umur masih sangat muda ( dewata lebar di taman) I Gusti Agung Gede Agung memiliki seorang putra yaitu : I Gusti Agung Gede Jembrana. Beliau adalah cucu dari raja I Gusti Ngurah Jembrana dan sekaligus diangkat sebagai raja jembrana II. Beliau memerintah dari tahun 1775 sampai dengan tahun 1790 I Gusti Agung Gede Jembrana memiliki 3 putra Yaitu I Gusti Agung Gede Andul, I Gusti Made Kaler dan I Gusti Nyoman Regung. I Gusti Agung gede Andul menggantikan ayahandanya sebagai raja Jembrana III. I Gusti Made Kaler memiliki 2 orang putra yaitu :I Gusti Putu Dian dan I Gusti Made Keladian. Pada saat pemerintahan I Gusti Agung Gede Andul, tahun 1809 kerajaan Jembrana diserang oleh kerajaan tabanan dan badung. Untuk menghadapi penyerangan tersebut, maka pasukan kerajaan Jembrana melakukan perlawanan yang dipimpin oleh I Gusti Made Keladian yang nota bene masih keponakan raja jembrana III Dengan gagah berani dan keteguhannya serta kepiawaiannya dalam strategi berperang akhirnya musuh dapat dikalahkan.. I Gusti Made Keladian memiliki Putra yaitu : I Gusti Putu Kapal, I Gusti Nyoman Breraban dan I Gusti Ketut Penarungan. I Gusti Nyoman Beraban inilah yang menurunkan Keluarga Besar Puri Beraban Jembrana yang ada sekarang ini yang beralamat di : Lingkungan Keladian, Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana {Bali) Om Santih santih santih Om Silsilah Puri Beraban Jembrana ini telah dibacakan oleh I Gusti Agung Bagus Mudiasa (Pengelingsir Puri Beraban Jembrana ) pada saat Karya Ngenteg Linggih Merajan Agung Puri Beraban Jembrana pada hari Buda Umanis Anggarkasih Julungwangi tanggal 1 Juli 2015 sebagai Guru Dadi : Ida Pedanda Griya Anom, Guru Tapini : Ida Pedanda Istri Giya Bedulu. dihadiri oleh Para Pengelingsir Griya dan Puri se Kabupaten Jembrana, Bapak Wakil Bupati Jembrana, Muspida, PHDI Kabupaten Jembrana, Bendesa dan Kelian Adat Kelurahan Dauhwaru serta seluruh keluarga besar Puri Beraban Jembrana

PECAH! Stand Up Sri Rahayu : Raditya Dika Ngakak, Sampai bilang Otaknya Geser

Pilkada Jembrana 2024, Petahana Berpeluang Lawan Kotak Kosong?

2 KISAH SAKRAL SELAT BALI TAK BOLEH MEMBANGUN JEMBATAN JAWA BALI

The French Do Not Care About Work

These animals are released into the wild for the first time

PERTAPAAN AWAL SANG PEMISAH PULAU JAWA-BALI

Best Things To Do In Ubud, Bali, Indonesia (OUR TOP 10)

Rowan Atkinson's Brilliant Humor Leaves Celebrities in Tears!

Keturunan Arya Belog di Kaba Kaba

AKHIRNYA TERLIHAT‼️ Jalur Baru Bawah Candi Ijo Terhubung ke Tol Jogja Solo

Puri Agung Karangasem - Warisan Sejarah Peninggalan Kerajaan Karangasem

BANYAK YANG TIDAK TAHU…BEGINI KEHIDUPAN ASLI DI JAKARTA INDONESIA!

People Who Messed With The Royal Guard and Regretted It!

4K Claude Monet Screensaver | Monet Painting Wallpaper Slideshow | 3 Hours, No Music

HIU TUTUL SEBERAT 1 TON LEBIH TERDAMPAR DI PESISIR SELATAN PANTAI CILACAP

PURA JAYAPRANA, KEPINGAN MISTERI KISAH CINTA JAYAPRANA DAN LAYONSARI

06/23/2026 SURABAYA COMPLETELY PARALYZED: WORST FLOODING IN SURABAYA TODAY & SEA WALL BREACHED IN...

Nervous System Regulation (999 Hz) | 1 hour handpan music | Malte Marten

The Mesatia Ritual in the Pelebon of the King of Gianyar, Bali in 1847 (Part 1)

