Puntang | malabar | sejarah | jaman dulu | kolonial | radio malabar | heritage | sejarah
keseluruhan reruntuhan bangunan yang terdapat di komplek wisata Gunung Puntang adalah peninggalan kantor Stasiun Radio Malabar. Stasiun radio tersebut merupakan penghantar pesan telegraf nirkabel bersejarah yang dapat menghubungkan Bandung dengan Den Haag, Belanda. Stasiun Radio Malabar dibangun sejak 1917 oleh peneliti bidang elektro berkebangsaan Belanda, Dr. Ir. C.J. de Groot. Pada 1927, tak hanya telegraf, pesan suara pun kemudian dapat disambungkan antara dua negara tersebut melalui gelombang yang dipancarkan antena sepanjang 2 kilometer. Antena tersebut membentang dari puncak Gunung Puntang hingga Gunung Haruman. Teknologi ini merupakan yang pertama beroperasi secara komersil di Hindia Belanda. Bila menelisik dari foto-foto yang dikumpulkan oleh Tropenmuseum Belanda--yang juga dicetak dan dilaminasi oleh para petugas wisata Gunung Puntang--kantor utama Stasiun Radio Malabar berada persis di depan Kolam Cinta. Bangunannya nampak megah dengan dua pilar besar di sisi kanan dan kirinya. Kolam Cinta pun tak lain merupakan bagian dari kantor tersebut. Fungsinya selain sebagai hiasan pemanis kantor, juga sebagai pendingin alat-alat pemancar gelombang radio yang ada di dalam kantor. Fungsi yang sama juga berlaku pada penampungan air yang kami lihat tak jauh dari Kolam Cinta. "Kalau tidak salah pembangunannya berlangsung dari 1918 hingga 1923. Itu pun enggak langsung selesai. Pada 1940 ada penambahan konstruksi bangunan, jadi lebih megah. Gedung Stasiun Radio Malabar sering disebut 'Gedung Sebahu'. Luas arealnya satu hektar," di area seluas 1 hektar tersebut juga berdiri sejumlah bangunan lain di belakang bangunan kantor utama. Salah satunya adalah bangunan yang dipergunakan sebagai bengkel. Saat ini, keseluruhan bangunan tersebut menyisakan sejumlah tembok-tembok batu yang terhalang ilalang. Membangun gedung megah di tengah belantara Gunung Puntang di era tersebut tentu bukan perkara mudah. Lokasi ini dipilih De Groot dan rekan-rekannya karena langsung menghadap ke Belanda. Sudut menyempit dari Kolam Cinta merupakan penunjuk arah yang mengarah ke negeri Kincir Angin tersebut. Kala itu, warga pribumi juga terlibat membangun sejumlah infrastruktur yang diperlukan guna menunjang operasional Stasiun Radio Malabar. Mulai dari aspal jalan menuju kantor, kabel pemancar di puncak gunung, bangunan-bangunan penampung air, kolam pendingin peralatan, pembangkit listrik, rumah-rumah peristirahatan pegawai, dan sebagainya. Terlepas dari bangunannya, upaya menyambungkan Indonesia dan Belanda via udara tersebut memiliki lika-likunya tersendiri. Berbagai penelitian dan percobaan dilakukan De Groot, hingga akhirnya memutuskan memperbesar Stasiun Radio Malabar untuk koneksi yang lebih kuat. Pada 1927, sambungan suara perdana antara Bandung dan Den Haag dapat terekam. Kalimat pertama yang terdengar adalah, "Hallo, Bandoeng! Hier Den Haag!" (Halo, Bandung! Di sini Den Haag!). Sejak saat itu, terutama ketika sambungan telepon tersebut dikomersialisasi pada 1929, komunikasi antara warga Belanda di negara jajahannya dengan sanak keluarga di kampung halaman mereka banyak terjalin. "Kota" yang Hilang Berbeda dengan saat ini, kawasan Gunung Puntang di era kejayaan Radio Malabar tak ubahnya sebuah kota kecil yang ramai dilalui orang. Meskipun berada jauh dari ingar-bingar lalulintas jalan, di sekitar area kantor pemancar radio berdiri sejumlah bangunan lain dengan fungsi yang beragam. Bangunan-bangunan inilah yang reruntuhannya dapat dilihat tersebar di sejumlah titik area perkemahan. , bangunan tersebut di antaranya dipakai sebagai rumah peristirahatan atau rumah dinas para karyawan Stasiun Radio Malabar. Tak hanya rumah-rumah, kala itu dibangun pula sarana rekreasi dan olahraga seperti lapang tenis hingga bioskop. "Di bawah akhirnya dibuat semacam kota. Di sana ada bangunan rumah dinas, lapang tenis, dan ada juga bioskop yang letaknya ada di daerah atas (dari rumah dinas),". Salah satu dokumentasi yang tersisa dari fasilitas-fasilitas tersebut adalah sebuah foto yang menangkap momen para pekerja Stasiun Radio Malabar tengah bermain tenis di lapang tenis. Di sisi lapangan tersebut terdapat anak tangga menuju rumah-rumah peristirahatan. Saat ini, lapang tenis tersebut difungsikan sebagai salah satu area perkemahan. Bangunan-bangunan rumah dalam foto tersebut hanya menyisakan pondasi dan tiang bekas instalasi listrik. seorang peneliti bidang elektro asal Belanda, Dr. Ir. CJ de Groot menemukan hal istimewa dari daerah pegunungan di selatan Bandung. Kala itu, Gunung Puntang dan Gunung Haruman beserta lembah di antaranya dipandang sebagai lokasi ideal untuk membuka gerbang "penyambung rindu" antara Hindia Belanda dan kampung halamannya. dsb..

RADIO MALABAR HISTORY

Melawan Lupa - Siapakah Penduduk Asli Jakarta?

NET JABAR - RADIO MALABAR TONGGAK KOMUNIKASI HINDIA BELANDA

Melawan Lupa - Kala Bandung Menjadi Kota Kolonial

Konflik dr. Cipto dengan Keraton Surakarta & Mangkunegaran - Fitnah & Perjuangan

BANDUNG LAUTAN API 🔥Kisah Heroik Rakyat Bandung Melawan Penjajah

Dokumentasi Langka! Perjalan Dari Eropa ke Hindia Timur 1938 - Subtitle Indonesia HD

Alam dan Masyarakat Sunda tahun 1938 - Indonesia Tempo Dulu

Sejarah pangalengan di tangan preanger planters paling sukses : " K.A.R Bosscha".

Fighting Forgetfulness - Mooi Bandoeng: When Bandung Became a Colonial City

Gladys Surbek : Saksi Hidup Zaman Kolonial Belanda I Untukmu Indonesiaku

MOI BANDUNG 1927 — PARIS VAN JAVA DI MASA KOLONIAL

Semarang Tempo Dulu Tahun 1955 | Video Langka Berwarna

CINYIRUAN Village which was once known to the world

OUD Batavia Trail - SINGKAP

KEMEGAHAN GUNUNG PUNTANG | mengupas misteri STASIUN MALABAR

Bandung in the Past, 1919 | Rare Color Video

Jurnal Cerita Sejarah - MENELUSURI JEJAK TUAN BOSCHA DI PANGALENGAN

Jakarta 1964

